Oleh indsmart
3 hours ago
Indsmart.co, Sukabumi — Upaya pencarian intensif yang dilakukan oleh personil Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta (Basarnas) dari Pos SAR Sukabumi bersama unsur potensi SAR akhirnya membuahkan hasil sebagian. Satu dari dua wisatawan asal Kota Bogor yang melaporkan tenggelam di Muara Sungai Pasir Putih Cipanarikan, Kawasan Konservasi Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu pagi (20/6/2026).
Korban teridentifikasi bernama Ahmad Efendi (36), seorang karyawan swasta yang beralamat di Villa Bogor Indah Blok EE6 No 05 RT 002/13, Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Kota Bogor Utara. Jasad korban ditemukan mengapung pukul 08.40 WIB sekitar radius 200 meter dari titik awal lokasi kejadian.
“Korban kami temukan pagi ini dalam posisi telungkup terapung di perairan, kemudian selanjutnya kita evakuasi dan dibawa menuju rumah duka untuk kita serahkan kepada pihak keluarga,” ungkap Suryo Adianto, Koordinator Pos SAR Sukabumi.
Berdasarkan data operasional lapangan dan laporan dari Babinpotmar Posal Ujung Genteng, peristiwa memilukan ini bermula pada Jumat sore (19/6) sekitar pukul 16.00 WIB. Korban bersama istrinya dan kedua anaknya tengah berjalan menyusuri pantai menuju arah Muara Sungai Pasir Putih Cipanarikan.
Sekitar pukul 16.20 WIB, Ahmad Efendi mengajak anaknya, Tobi Efendi (12) yang berstatus pelajar, untuk berenang di kawasan muara sungai tersebut. Namun naas, diduga karena kondisi arus muara yang kuat dan korban tidak bisa berenang, keduanya langsung mengalami kesulitan untuk mencapai daratan.

Menurut keterangan saksi di lokasi, yakni Diki Kurniawan (41) dan Ateng Yuswana (33) yang merupakan warga Kampung Jaringao, Desa Pangumbahan, kedua korban sempat berteriak histeris meminta pertolongan sebelum akhirnya tubuh mereka terseret arus dan tenggelam.
Istri korban yang menyaksikan kejadian tersebut seketika panik. Lantaran tidak memiliki kemampuan berenang, ia tidak dapat menolong suami dan anaknya secara langsung. Ia kemudian berlari mencari bantuan dari warga sekitar. Warga setempat sempat melakukan upaya pencarian awal dengan cara berenang di sekitar lokasi, namun kedua korban gagal ditemukan pada sore itu.
Mendapat laporan dari warga, aparat keamanan dari berbagai lini langsung bergerak menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petugas awal yang mendatangi lokasi di antaranya Lettu Laut (P) Andri Kurniawan (Danposal Ujung Genteng), Serda Bambang Heryanto (Babinpotmar), Kopka Bayuni (Anggota Intel Posal), serta Dadang dari BPBD/P2BK Kecamatan Ciracap. Langkah cepat pun diambil dengan memeriksa TKP, meminta keterangan saksi, dan menggelar operasi penyisiran darurat.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian intensif terhadap korban kedua, yaitu anak korban atas nama Tobi Efendi (12). Guna memaksimalkan pencarian di hari kedua ini, tim SAR memperluas area penyisiran dengan membagi strategi seperti penyisiran perairan menggunakan perahu LCR (Rubber Boat) dengan jangkauan sejauh 2 Nautical Mile (Nm) dari lokasi kejadian. Kemudian penyisiran darat menugaskan personil untuk menyisir bibir pantai sejauh 2 kilometer ke arah barat dan 2 kilometer ke arah timur. Hingga pemantauan udara dengan memanfaatkan teknologi drone untuk memantau area perairan dangkal dan celah-celah karang hingga radius 200 meter dari titik hilangnya korban.
Soliditas antar-unsur potensi SAR terlihat jelas di lapangan demi misi kemanusiaan ini. Puluhan personil gabungan yang diterjunkan terdiri dari berbagai instansi resmi, organisasi relawan, hingga elemen masyarakat, meliputi, Pos SAR Sukabumi (Basarnas), Polair Polres Sukabumi, Pos TNI AL (Posal) Ujung Genteng, P2BK BPBD Kabupaten Sukabumi, Nelayan Ujung Genteng, Jampang Peduli (Jampe), Perangkat Desa Pangumbahan SAKA SAR Kabupaten Sukabumi Balawista, Relawan Sehati, dan Masyarakat setempat.
Sementara kini kondisi gelombang laut selatan Sukabumi yang terkenal cukup ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas di lapangan. Kendati demikian, Koordinator Pos SAR Sukabumi menegaskan operasi pencarian akan terus dioptimalkan secara maksimal dengan harapan korban anak dapat segera ditemukan. Warga dan wisatawan yang berkunjung ke kawasan konservasi tersebut juga kembali diimbau untuk selalu waspada dan mematuhi rambu larangan aktivitas berenang di titik rawan muara. (RED)