Oleh indsmart
5 days ago
Indsmart.co, Sukabumi – Dari kejauhan, saat senja mulai jatuh di tanah Pasundan, siluetnya tampak begitu megah sekaligus mengintimidasi. Gunung Salak, sebuah benteng hijau yang membelah Bogor dan Sukabumi, berdiri diselimuti hamparan awan merah yang perlahan berganti menjadi kabut tebal. Bagi mata awam, ia hanyalah sebuah gunung api aktif. Namun bagi masyarakat tatar Sunda, setiap jengkal tanah di lerengnya adalah lembaran kisah mistis dan sejarah purba yang tak pernah benar-benar selesai ditulis.
Banyak yang keliru mengira namanya lahir dari buah bersisik tajam yang sepat. Padahal, jauh sebelum peta modern dicetak, gunung ini bernama “Salaka”sebuah kata dari bahasa Sansekerta kuno yang berarti Perak.
Konon, pada masa ketika langit Jawa Barat masih bersih tanpa polusi, puncak gunung ini memantulkan cahaya matahari pagi hingga berkilau keperakan. Hal ini menjadikannya sebagai kompas alami bagi para pelaut purba di Selat Sunda. Salaka bukan sekadar gunung, melainkan sebuah mercusuar alam yang sakral.
Jejak yang Hilang di Puncak Manik
Melangkah masuk ke dalam vegetasi rapat Gunung Salak berarti siap menghadapi kondisi sunyi yang menekan. Di sini, mitos tentang Prabu Siliwangi mengakar kuat. Ketika Kerajaan Pajajaran runtuh, sang raja agung dipercaya tidak mengangkat, melainkan memilih jalur ngahiyang atau menghilang secara gaib bersama para pengikut setianya ke dalam rimbunnya hutan Salak. Mereka yakin menjelma menjadi harimau lodaya yang hingga kini menjaga kesucian gunung tersebut dari tangan-tangan usil.
Keberadaan para penjaga gaib ini membuat kawasan Salak memiliki atmosfer yang berbeda. Gunung ini seolah memiliki cara tersendiri untuk membaca niat setiap manusia yang datang, apakah membawa maksud baik atau justru membawa kesombongan.
Melangkah lebih jauh menuju Puncak Manik, jalur pendakian akan menyajikan tantangan yang kian berat. Di tempat ini, cuaca bisa berubah ekstrem dalam hitungan detik. Kabut pekat yang datang secara tiba-tiba sering kali dianggap oleh warga lokal sebagai “gorden gaib” atau pintu pembatas antara dunia manusia dan dunia supranatural.
Ketika Alam Mulai MenegurDalam catatan petualangan para pendaki, ada satu benang merah yang selalu berulang mengenai kepatuhan terhadap aturan alam. Salak dikenal tidak mentoleransi keangkuhan. Terdapat hukum adat tak tertulis yang kekal di sini, seperti larangan memetik anggrek langka yang menjadi perhiasan hutan, larangan mengeluh sepanjang perjalanan, serta kewajiban menjaga lisan dari umpatan.
Kisah-kisah tentang pendaki yang tersesat dan dipertemukan dengan fatamorgana berupa pasar gaib atau suara gamelan yang menggema di tengah malam, sering kali bermula dari ucapan takabur.Kerap terjadi peristiwa di mana seorang pendaki yang meremehkan jalur terjal dan berlumpur langsung berhadapan dengan kabut tebal yang mengunci pandangan. Dalam situasi tersebut, rekan sekelompok bisa menghilang seketika, meninggalkan sang pendaki berjalan berputar-putar di tempat yang sama selama berjam-jam, sebelum akhirnya disadarkan oleh aroma wangi melati yang pekat sebagai tanda peringatan dari penghuni tak kasatmata.
Ibu yang Murah Hati
Namun, keliru jika hanya memandang Salaka dari sisi misterinya saja. Di balik selimut kabut dan cerita-cerita pengingatnya, gunung ini adalah sesosok ibu yang luar biasa murah hati bagi jutaan manusia yang hidup di sekitarnya.
Gunung Salak adalah harmoni yang sempurna antara yang sakral dan yang nyata. Ia menyediakan pasokan air bersih murni yang menghidupi wilayah Jabodetabek, memberi napas lewat oksigen dari hutannya yang lebat, sekaligus tetap memegang teguh rahasia-rahasia purbanya.Ketika malam benar-benar turun dan lampu-lampu kota di bawahnya mulai menyala, Gunung Salak kembali menjadi bayangan hitam yang sunyi. Ia tetap berdiri kokoh di sana, setia dengan takdirnya sebagai pengingat bagi manusia yang kerap lupa, bahwa ada kekuatan alam yang jauh lebih besar dan lebih tua dari sekadar ambisi mereka. (Red)