Nestapa Petani Sukabumi 7 Bulan Bendungan Cidadap Dibiarkan Jebol

Kondisi Bendungan Cidadap Sukabumi yang jebol, memicu kekeringan dan mengancam mata pencaharian petani lokal, (20/062026). Foto: RFA
Kondisi Bendungan Cidadap Sukabumi yang jebol, memicu kekeringan dan mengancam mata pencaharian petani lokal, (20/062026). Foto: RFA

Indsmart.co, Sukabumi – Nasib pilu harus dialami oleh para petani di lima kampung di Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. Mereka kini hanya bisa gigit jari lantaran tidak dapat menggarap puluhan hektare lahan persawahan akibat jebolnya Bendungan Cidadap yang memutus total aliran irigasi utama.

Bencana yang terjadi sejak awal November 2025 lalu akibat longsoran dan luapan Sungai Cidadap tersebut kini benar-benar mematikan mata pencaharian warga. Di tengah situasi musim kemarau, para petani dipastikan kehilangan masa tanam dan dibayangi ancaman gagal panen total.

Acep (65), salah seorang petani terdampak di Kampung Cikaret, mengungkapkan rasa frustrasinya melihat kondisi sawah yang kini telantar. Alih-alih sibuk mengolah padi, ia dan petani lainnya kini hanya bisa meratapi bendungan yang tak kunjung diperbaiki.

“Iya, kita sudah tidak bisa nyawah lagi. Sekarang kan musim kemarau, terus bendungan sudah lama jebol belum diperbaiki. Jadi satu musim ini para petani di sini gigit jari, tidak bisa menanam padi,” ujar Acep, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Acep, di kawasan Kampung Cikaret saja, sedikitnya ada 35 hektare lahan persawahan yang kini kering kerontang. Harapan untuk bisa memanen padi hingga akhir tahun ini dipastikan sudah sirna.

“Diperkirakan sampai akhir tahun ini kita tidak bisa garap sawah lagi. Padahal sebelum bendungan jebol, kita tiap musim selalu ngegarap,” tuturnya.

Niat para petani untuk mencari alternatif lain dengan menanam tanaman palawija pun terbentur kenyataan pahit. Akibat ketiadaan air yang berkepanjangan, struktur tanah persawahan kini telah berubah menjadi keras dan mustahil untuk dicangkul.

Jebolnya bendungan yang berlokasi di Kampung Cikaret, Desa Sasagaran ini sejatinya berdampak luas bagi ketahanan pangan lokal. Pasokan air dari bendungan ini merupakan urat nadi bagi pertanian di lima kampung, yaitu kampung Jantake, kampung Cikawung, kampung Sasagaran, kampung Cikaret dan kampung Babakan Teureup.

Kini, di tengah ketidakpastian, para petani hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan melakukan perbaikan agar mereka tidak terus-menerus gigit jari menatap sawah yang mengering.

“Kami para petani berharap ada solusi dan perhatian dari pemerintah. Ya, Bendungan Cidadapnya tolong diperbaiki lah,” tutupnya.(RED)

BeriTA TERKAIT

BeriTA terkini