Indsmart.co, Blood Moon adalah istilah populer yang digunakan saat terjadi gerhana bulan total (total lunar eclipse). Saat fenomena ini terjadi, Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari terhalang langsung. Namun sinar matahari yang melewati atmosfer Bumi dibelokkan (dibiaskan), terutama cahaya dengan panjang gelombang merah-oranye, hingga mencapai Bulan dan membuatnya tampak kemerahan dramatis.
Gerhana Bulan Total Luar Biasa Pada tanggal 7 hingga 8 September 2025, terjadi gerhana bulan total yang disebut Blood Moon. Berikut garis besar peristiwa unik ini:
- Fenomena ini terlihat di sebagian besar wilayah Asia, Afrika, Eropa, dan Australia. Sekitar 85% populasi dunia berkesempatan menyaksikannya secara langsung.
- Totalitas berlangsung selama 82 menit 6 detik (lebih dari 1 jam), termasuk fase di mana Bulan tampak merah darah secara penuh salah satu totalitas terpanjang dalam dekade ini.
- Berdasarkan BMKG, berikut jadwal fase gerhana di Indonesia (WIB):
- P1 (penumbra mulai): 22.26:56 WIB
- U1 (sebagian mulai): 23.26:44 WIB
- U2 (total mulai): 00.30:17 WIB (8 September 2025)
- Puncak (totalitas maksimal): 01.11:45 WIB
- U3 (total berakhir): 01.53:13 WIB
- U4 (sebagian berakhir): 02.56:46 WIB
- P4 (penumbra berakhir): 03.56:34 WIB
- Di wilayah seperti Sumatera Selatan, jadwal serupa berlaku dimulai penumbra sekitar 22.26 WIB dan U1 sekitar 23.26 WIB.
- Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, BMKG bersama Pemkot Banjarbaru akan mengadakan pengamatan umum di Lapangan dr. Murdjani dibuka mulai pukul 19.00 WITA, dengan totalitas sekitar 1 jam 22 menit.
Mengapa Warna Merah Muncul?
Warna merah muncul karena atmosfer Bumi menyebarkan (meredam) cahaya biru dan hijau, sementara cahaya merah yang memiliki panjang gelombang lebih panjang tetap dibiaskan ke arah Bulan. Saat Bulan berada di dalam bayangan umbra Bumi, ia menerima cahaya merah inilah sehingga tampak seperti “bulan berdarah.
Bagaimana dan Di Mana Dapat Disaksikan?
- Wilayah Asia, Afrika, Eropa, dan Australia akan melihat gerhana secara keseluruhan. Beberapa di Eropa hanya melihat saat Bulan terbit, sementara sebagian besar Amerika tidak bisa melihat sama sekali karena di sisi terang Bumi saat itu.
- Di Indonesia, kondisi langit cerah memungkinkan observasi Gerhana Bulan Total dari rumah tanpa alat khusus, cukup dengan mata telanjang.
Jika ingin mengabadikan Blood Moon:
- Mata telanjang sudah cukup, tanpa perlu filter.
- Gunakan tripod atau permukaan yang stabil agar gambar tidak buram.
- Bersihkan lensa kamera atau handphone.
- Gunakan mode malam (night mode) atau manual untuk mengatur ISO, fokus, dan eksposur.
- Hindari zoom digital pada ponsel lebih baik crop setelah foto diambil.
- Mode RAW (ProRAW, Expert RAW) memberi fleksibilitas edit lebih baik.
Fakta Tambahan
- Fenomena ini adalah total lunar eclipse kedua di tahun 2025, setelah yang terjadi pada Maret dan sebelum gerhana lainnya di 2026.
- Fenomena ini adalah gerhana bulan total terpanjang sejak tahun 2022 dan diprediksi salah satu yang paling spektakuler dalam dekade ini.
Fenomena Blood Moon 7–8 September 2025 adalah momen astronomi langka dan menakjubkan. Durasi totalitas yang panjang, visibilitas yang luas, dan tampilannya yang dramatis menjadikannya salah satu peristiwa langit paling dinanti tahun ini. Di Indonesia, masyarakat bisa menikmati pemandangan ini dengan mudah hanya dengan melihat ke langit malam tanpa perlengkapan khusus. (**)