Jamur dan Bakteri Kontaminasi Menu MBG di Sukabumi, Hasil Lab Ungkap Sumber Masalah

Ilustrasi uji lab sample makanan MBG. Foto : AI
Ilustrasi uji lab sample makanan MBG. Foto : AI

Indsmart.co, Sukabumi – Dugaan keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sukabumi mulai terungkap penyebabnya. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukabumi, (23/9). Pada hasil uji laboratorium tersebut dipaparkan dari tiga lokasi Sekolah Penyelenggara Pemberian Gizi (SPPG) yang terdampak. Hasilnya, ditemukan kontaminasi jamur dan bakteri pada sejumlah menu makanan, meskipun pola penyebab berbeda di tiap lokasi.

Hasil Lab SPPG Cidolog

Sampel makanan yang diperiksa meliputi nasi uduk, tempe orek, acar bumbu kuning, telur dadar, dan semangka. Dari uji mikrobiologi Balai Laboratorium Kesehatan Jawa Barat, ditemukan:

  • Jamur Coccodiodesimmitis pada semangka
  • Bakteri Enterobacter cloacae pada tempe orek
  • Bakteri Macrococcus caseolyticus pada telur dadar

Kontaminasi ini kemungkinan terjadi akibat penyimpanan bahan makanan pada suhu ruang terlalu lama, yang memberi peluang pertumbuhan mikroba berbahaya.

Hasil Lab SPPG Parakansalak

Jenis makanan yang diuji mencakup nasi putih, telur, orek tahu, sayuran, semangka, dan susu. Hasil laboratorium menunjukkan adanya bakteri Bacillus cereus pada telur.

Bakteri ini umum ditemukan pada produk pangan dan mampu bertahan dalam kondisi panas. Apalagi setelah telur dimasak, racun (toksin) yang dihasilkan Bacillus cereus tidak bisa hilang sepenuhnya.

SPPG Cibadak: Masih Menunggu Hasil

Untuk lokasi Cibadak, hingga kini hasil uji laboratorium belum dirilis. Dinkes menyebut pemeriksaan masih dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi serupa.

Pola Penyebab Berbeda di Tiap Lokasi

Meski sama-sama masuk dalam kategori dugaan keracunan MBG, hasil uji menunjukkan pola penyebab berbeda:

  • Cidolog: jamur dan bakteri pada buah serta lauk (semangka, tempe orek, telur dadar)
  • Parakansalak: bakteri pada telur
  • Cibadak: masih menunggu hasil

Faktor Risiko: Penyimpanan & Distribusi MBG

Kontaminasi bakteri maupun jamur pada makanan MBG mengindikasikan lemahnya rantai pengawasan, mulai dari penyimpanan bahan, proses memasak, hingga distribusi ke siswa. Beberapa faktor risiko yang teridentifikasi antara lain:

  • Suhu ruang penyimpanan terlalu lama sehingga makanan cepat terkontaminasi
  • Bahan pangan mudah rusak seperti telur dan semangka tidak ditangani sesuai standar
  • Proses memasaknya tidak sempurna sehingga bakteri masih dapat bertahan
  • Pengawasan higienitas dapur MBG di tiap sekolah yang belum merata

Kasus ini menjadi peringatan penting bahwa gizi gratis harus diikuti dengan jaminan keamanan pangan, agar niat mulia meningkatkan kesehatan siswa tidak membusuk menjadi ancaman bagi mereka.

BeriTA TERKAIT

BeriTA terkini