USS Gerald R. Ford Menuju Perairan Iran, Trump Ultimatum Teheran Soal Nuklir

Kapal Perang USS Gerald D Ford. Foto : Istimewa
Kapal Perang USS Gerald D Ford. Foto : Istimewa

Indsmart.co-Meskipun perundingan tak langsung antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah justru menunjukkan eskalasi. Washington dinilai terus meningkatkan tekanan, termasuk melalui pengerahan kekuatan militer tambahan ke wilayah tersebut.

Seorang pejabat militer elite AS menyatakan bahwa kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, tengah berlayar dari Laut Karibia menuju perairan dekat Iran. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Al Arabiya. Pada Kamis (12/2/2026).

Dilansir dari Al Arabiyya, dengan pengerahan tersebut, AS kini menempatkan dua kelompok tempur kapal induk di kawasan. Sebelumnya, USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak rudal berpemandu telah tiba di Timur Tengah lebih dari dua pekan lalu.

Di tengah proses diplomasi, Presiden AS Donald Trump terus meningkatkan tekanan agar Teheran segera menyepakati pembatasan program nuklirnya. Iran dan AS diketahui menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman pekan lalu.

Menanggapi tenggat waktu kesepakatan, Trump menyatakan proses tersebut harus segera rampung.

“Saya kira dalam sebulan ke depan. Kurang lebih seperti itu. Itu harus terjadi dengan cepat. Mereka harus setuju dengan sangat cepat,” ujar Trump.

Ia juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada konsekuensi yang “sangat traumatis” bagi Iran. Bahkan, Trump mengisyaratkan kemungkinan “fase kedua” jika negosiasi gagal, yang menurutnya akan jauh lebih berat bagi Teheran.

Sebelumnya, USS Gerald R. Ford sempat dipindahkan dari Laut Mediterania ke Karibia pada Oktober lalu, ketika Washington meningkatkan kesiapan militernya menjelang operasi mendadak yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan pembicaraan panjang dengan Trump di Washington. Netanyahu mendorong AS untuk memperluas cakupan perundingan, termasuk memasukkan program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.

Ia menyebut kelompok seperti Hamas, Hezbollah, dan milisi Houthi di Yaman sebagai bagian dari persoalan yang harus dibahas dalam kesepakatan apa pun.

“Saya tidak akan menyembunyikan bahwa saya skeptis terhadap kualitas kesepakatan apa pun dengan Iran. Kesepakatan tersebut harus mencakup unsur-unsur yang sangat penting dari perspektif kami,” kata Netanyahu.

Namun demikian, Trump tetap menegaskan bahwa jalur diplomasi harus dilanjutkan, meski tekanan militer tetap diperkuat.

Sejauh ini, Teheran menolak memperluas ruang lingkup pembicaraan di luar isu nuklir. Pemerintah Iran menegaskan tidak pernah berupaya memiliki senjata nuklir dan tidak akan tunduk pada apa yang mereka sebut sebagai “tuntutan berlebihan”.

Kepala keamanan Iran, Ali Larijani, menuding Israel berupaya menyabotase negosiasi demi memicu konflik baru di kawasan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera saat kunjungan ke Doha, Qatar, Larijani mengatakan Israel menciptakan dalih untuk menggagalkan proses diplomasi yang tengah memasuki tahap sensitif.

“Negosiasi kami secara eksklusif dengan Amerika Serikat. Kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel. Namun Israel telah ikut campur dengan niat merusak proses ini,” ujarnya.

Larijani menilai strategi Israel bertujuan menggoyahkan stabilitas kawasan, dan menyerukan negara-negara regional agar mewaspadai dinamika tersebut.

Sebelumnya, serangan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu terjadi ketika Teheran dan Washington tengah menjalani beberapa putaran dialog, yang pada akhirnya menggagalkan proses diplomatik tersebut.

Dengan pengerahan dua kapal induk AS di kawasan serta meningkatnya retorika keras dari para pemimpin, masa depan perundingan nuklir Iran kini berada dalam tekanan besar.(RED)

BeriTA TERKAIT

BeriTA terkini