Oleh indsmart
10 months ago
Indsmart.co – Indonesia adalah negeri dengan kekayaan budaya dan sejarah yang tak ternilai. Salah satu bukti warisan itu berdiri megah di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah: Candi Prambanan, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Namun, di balik keindahan dan keagungan nya, tersembunyi sebuah kisah cinta tragis yang telah melegenda di tengah masyarakat Jawa: Legenda Roro Jonggrang.
Dahulu kala, di tanah Jawa berdiri dua kerajaan besar: Kerajaan Pengging, yang dipimpin oleh raja bijak namun ambisius, dan Kerajaan Baka, yang dikuasai oleh seorang raja raksasa sakti bernama Prabu Baka. Prabu Baka memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Roro Jonggrang, yang kecantikannya disebut-sebut menyamai bidadari kahyangan.
Suatu hari, Prabu Baka dibunuh dalam pertempuran oleh Bandung Bondowoso, seorang pangeran dan ksatria sakti dari Kerajaan Pengging. Setelah mengalahkan Prabu Baka, Bandung Bondowoso menaklukkan kerajaannya dan bertemu dengan Roro Jonggrang. Tanpa
Namun, Roro Jonggrang menolak secara halus. Ia tidak bisa menerima lamaran laki-laki yang telah membunuh ayahnya. Tapi karena takut dengan kekuatan Bandung Bondowoso, ia tak bisa menolak secara terang-terangan. Maka, ia pun mengajukan syarat mustahil: Bandung Bondowoso harus membangun 1000 candi dalam satu malam.
Bandung Bondowoso, percaya pada kesaktiannya dan kekuatan jin yang ia kuasai, menyanggupi tantangan tersebut. Malam pun tiba, dan pembangunan dimulai. Dengan bantuan makhluk-makhluk gaib, candi demi candi berdiri dalam waktu singkat. Ketika jumlahnya mencapai 999, Roro Jonggrang mulai panik.
Untuk menggagalkan usaha Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang menyuruh para dayang untuk menumbuk padi dan membakar jerami agar suasana seperti fajar. Ayam pun berkokok lebih awal, dan para jin melarikan diri karena mengira hari sudah pagi.
Bandung Bondowoso sadar bahwa ia telah ditipu. Marah dan kecewa, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu—sebagai candi ke-1000 yang tak pernah selesai. Diyakini, patung wanita di dalam Candi Siwa adalah wujud dari Roro Jonggrang yang membatu karena kutukan itu.
Kini, Candi Prambanan tak hanya menjadi destinasi wisata arkeologi, tetapi juga situs budaya yang menghidupkan kembali legenda tersebut. Pertunjukan Sendratari Ramayana yang rutin dipentaskan di pelataran candi turut menghidupkan kembali kisah cinta dan kutukan ini dalam bentuk seni.
Legenda Roro Jonggrang tidak hanya memberi warna pada sejarah Prambanan, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang cinta, kejujuran, dan konsekuensi dari tipu daya. Ia menjadi pengingat bahwa di balik bangunan megah masa lalu, selalu ada kisah manusia yang hidup dan bermakna.