Oleh indsmart
3 months ago
Indsmart.co, Sukabumi – Dugaan aktivitas pembukaan lahan di kawasan hulu Sungai Cisolok menjadi perhatian serius Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Yudha Sukmagara, setelah banjir merendam ratusan rumah di Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok. Yudha menilai kerusakan lingkungan merupakan pemicu utama bencana, bukan semata-mata fenomena alam.
Kamis (6/11/2025), Yudha meninjau langsung lokasi tanggul Sungai Cisolok yang jebol dan meluapkan air ke permukiman warga. Dalam kesempatan itu, ia mendapatkan laporan adanya pembukaan lahan seluas lebih dari lima hektare di kawasan hulu yang baru dihentikan lima hari sebelum banjir terjadi.
“Saya tidak percaya istilah ‘siklus 15 tahunan’. Saya lebih percaya bahwa setiap bencana pasti ada sebabnya. Tadi saya mendapat laporan dari kepala desa bahwa di atas ada pembukaan lahan besar-besaran yang baru disetop sebelum banjir. Nah, ini yang harus diusut,” tegas Yudha.
Menurutnya, banjir yang terjadi bukan karena alam “murka”, melainkan akibat kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia. Ia menilai perubahan tata lahan di hulu menyebabkan air turun dalam volume besar dan menerjang tanggul hingga jebol.
“Kalau hutan di hulu rusak, air pasti turun deras ke bawah. Ini bukan bencana biasa. Ini ada kaitan kuat dengan aktivitas manusia yang mengganggu ekosistem,” ujarnya.
Yudha memastikan akan berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat, Polres Sukabumi, hingga Polda Jabar untuk menindaklanjuti dugaan perusakan lingkungan tersebut. Menurutnya, penyelidikan harus dilakukan secara tuntas agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kita tidak boleh membiarkan kerusakan lingkungan terus terjadi tanpa sanksi. Ini harus ditindaklanjuti,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah daerah tidak saling melempar tanggung jawab antara kabupaten dan provinsi. Penanganan bencana, katanya, harus berpijak pada keselamatan masyarakat, bukan perdebatan administratif.
“Ini bencana, bukan soal wilayah administrasi. Jangan sampai masyarakat jadi korban karena persoalan kewenangan,” ucapnya.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha menyalurkan bantuan logistik berupa sembako dan kebutuhan pokok kepada warga. Namun ia menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan hanya solusi sementara, sedangkan perbaikan tanggul adalah kebutuhan paling mendesak.
“Saya melihat langsung kondisi tanggul di Sungai Cisolok yang jebol akibat derasnya arus air dari hulu. Ini harus jadi prioritas utama, tidak bisa ditunda,” katanya.
Ia menyebut ada sekitar 500 kepala keluarga atau lebih dari seribu jiwa yang kini hidup dalam kecemasan setiap malam akibat tanggul yang belum diperbaiki. Untuk itu, Fraksi Gerindra akan berkoordinasi dengan Bupati dan Sekda agar dana Belanja Tidak Terduga (BTT) segera dicairkan.
Yudha juga mengingatkan bahwa curah hujan tinggi di Sukabumi berpotensi memperburuk situasi jika penanganan tanggul tidak dilakukan segera. Ia menegaskan bahwa mitigasi bencana harus ditingkatkan, khususnya di wilayah rawan seperti Cisolok.
“Sekarang musim hujan. Kalau dibiarkan, banjir bisa terulang kapan saja. Maka langkah pertama adalah mengamankan tanggul, setelah itu baru fokus pada pemulihan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, ia kembali menekankan bahwa penanganan dampak bencana harus berdasar pada kerja nyata, bukan keyakinan terhadap mitos atau siklus alam.
“Kita tidak boleh percaya tahayul seperti ‘bencana datang tiap 15 tahun’. Yang harus kita yakini adalah kerja keras, kerja cepat, dan kerja nyata untuk rakyat,” pungkasnya. (*)
Editor : Redaksi