Perubahan Iklim dan Tantangan Global di Tahun 2025

images (34)

Indsmart.co, JAKARTA – Perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman di masa depan, melainkan krisis nyata yang kini dihadapi dunia. Tahun 2025 membawa tantangan besar bagi negara-negara di seluruh dunia dalam mengatasi dampak dari pemanasan global, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan air laut, dan berbagai bencana alam yang semakin sering terjadi.

Apa Itu Perubahan Iklim?

Perubahan iklim adalah fenomena jangka panjang yang ditandai dengan pergeseran pola cuaca dan suhu global akibat aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas ini, seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), terperangkap di atmosfer dan menyebabkan peningkatan suhu bumi atau yang dikenal sebagai pemanasan global.

Menurut laporan terbaru dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu global telah meningkat lebih dari 1,2°C dibandingkan dengan era pra-industri. Jika tren ini terus berlanjut, dunia bisa mencapai kenaikan suhu 1,5°C sebelum tahun 2035, yang dapat memicu dampak lebih buruk terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.

Tantangan Perubahan Iklim di Tahun 2025

Tahun 2025 menjadi periode kritis dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi dunia:

1. Cuaca Ekstrem dan Bencana Alam

Di berbagai belahan dunia, bencana alam semakin intens dan merusak. Beberapa tren yang terlihat di tahun 2025 meliputi:

  • Gelombang panas ekstrem di Amerika Utara, Eropa, dan Asia yang memecahkan rekor suhu tertinggi dalam sejarah.
  • Banjir besar di Asia Selatan dan Pasifik akibat curah hujan yang ekstrem dan naiknya permukaan air laut.
  • Kekeringan berkepanjangan di Afrika dan Australia yang mengancam ketahanan pangan dan sumber air.
  • Kebakaran hutan besar di Amazon, California, dan Australia yang semakin sulit dikendalikan akibat suhu yang lebih tinggi dan udara yang lebih kering.

2. Krisis Air dan Ketahanan Pangan

Perubahan pola curah hujan dan cuaca ekstrem berdampak besar pada sektor pertanian. Tahun 2025 mencatat penurunan hasil panen global akibat kekeringan dan badai tropis yang menghancurkan ladang-ladang pertanian. Di beberapa negara berkembang, krisis air bersih menjadi semakin serius, meningkatkan risiko kelangkaan pangan dan malnutrisi.

3. Kenaikan Permukaan Air Laut dan Tenggelamnya Kota-Kota Pesisir

Laporan dari World Meteorological Organization (WMO) menyebutkan bahwa permukaan laut global naik rata-rata 3,7 mm per tahun akibat pencairan es di kutub dan pemanasan lautan. Kota-kota pesisir seperti Jakarta, Bangkok, dan Miami menghadapi ancaman besar dari abrasi dan banjir rob yang semakin sering terjadi.

4. Transisi Energi yang Masih Lambat

Meski energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin mengalami pertumbuhan pesat, transisi dari bahan bakar fosil masih menghadapi banyak tantangan. Beberapa negara masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama, sementara investasi dalam teknologi hijau belum cukup cepat untuk menggantikan bahan bakar fosil secara menyeluruh.

5. Ketidakadilan Iklim dan Beban Terhadap Negara Berkembang

Negara-negara berkembang yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim justru memiliki emisi karbon yang jauh lebih kecil dibanding negara maju. Namun, mereka menghadapi beban besar dalam beradaptasi terhadap krisis ini. Program pendanaan iklim seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) dan Green Climate Fund masih berjalan lambat, memperburuk kesenjangan antara negara kaya dan miskin dalam mengatasi perubahan iklim.

Langkah Global dalam Mengatasi Perubahan Iklim

Pada tahun 2025, negara-negara dunia semakin didesak untuk mempercepat langkah-langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Beberapa inisiatif utama yang sedang dilakukan meliputi:

  • Peningkatan target emisi netral karbon yang lebih ambisius dari berbagai negara, termasuk rencana penghapusan batu bara di beberapa negara Eropa dan Asia.
  • Investasi besar dalam energi hijau, seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir dan hidrogen hijau untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
  • Penguatan regulasi lingkungan, termasuk pajak karbon dan insentif bagi industri untuk mengurangi emisi mereka.
  • Program restorasi alam, seperti reforestasi dan perlindungan hutan hujan tropis sebagai penyerapan karbon alami.

Indonesia dan Perubahan Iklim: Tantangan dan Harapan

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama kenaikan permukaan laut dan bencana hidrometeorologi. Meski telah berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060, tantangan besar masih menghadang, seperti:

  • Ketergantungan tinggi pada batu bara untuk kebutuhan energi.
  • Deforestasi dan perusakan hutan yang masih berlangsung.
  • Perlunya investasi besar dalam infrastruktur hijau dan transisi energi.

Namun, di tengah tantangan tersebut, Indonesia juga memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim melalui pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan hutan yang lebih baik, serta kolaborasi global dalam pendanaan iklim.

Perubahan iklim adalah tantangan terbesar umat manusia di abad ke-21. Tahun 2025 menjadi momen penting bagi dunia untuk mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon dan meningkatkan adaptasi terhadap dampak yang sudah terjadi. Kerjasama internasional, inovasi teknologi, dan perubahan kebijakan yang lebih ambisius sangat dibutuhkan untuk memastikan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan industri, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat dalam mengubah gaya hidup menuju yang lebih ramah lingkungan.

Editor: Alan

BeriTA TERKAIT

BeriTA terkini